9 Indikator Kehancuran Indonesia

   Fachrul Razi/Dok

[ ZahirMedia ].  Pidato Ketua Umum DPP Gerindra, Prabowo Subianto tentang Indonesia bubar di tahun 2030 bisa menjadi kenyataan.


Anggota DPD RI, Fachrul Razi menyebut setidaknya ada sembilan indikator kehancuran Indonesia. 

Pertama, melemahnya konsolidasi elit. Di sisi lain juga menunjukkan konsolidasi demokrasi semakin melemah. Masyakarat Indonesia semakin pecah bahkan DPD RI sebagai representatif daerah semakin melemah wewenangnya. 

"Perlu dicatat bahwa melemahnya DPD RI maka akan mengakibatkan melemahnya NKRI. Muncul banyak kelompok dan kepercayaan sosial baik horizontal maupun vertikal yang semakin melemah," kata dia kepada Kantor Berita Politik RMOL.

Kedua, tekanan internasional untuk Indonesia semakin kuat baik secara ekonomi maupun hukum. 

"Lihat saja kasus penguasaan Freeport di Papua dan sumber daya alam lainnya. Bahkan masalah Aceh juga belum selesai," jelas senator asal Aceh ini. 

Di sisi lain perubahan sistem hukum Indonesia yang dipengaruhi kepentingan asing semakin masif dan sistematis. Bahkan RPJP Indonesia bernuansa kepentingan asing. 

Ketiga, lanjut Fachrul, kekuatan koorporasi politik yang mempengaruhi kebijakan politik Indonesia semakin kuat. "Negara kita diatur oleh uang para pemilik modal," kritiknya.

Keempat, utang luar negeri Indonesia yang mencapai lebih dari Rp 4 ribu triliun. Ini menunjukkan Indonesia darurat utang.

Kelima, narkoba dan komunisme baru menjadi musuh dan ancaman Indonesia dan ini sudah merusak generasi muda. Secara ekonomi, ia menilai kekuatan ekonomi generasi muda sekarang di daerah. Pengangguran tinggi dan nilai kompetisi yang tinggi. 

Keenam, civil society dan elemen mahasiswa semakin dilemahkan oleh rezim saat ini. Perpecahan di mana-mana yang dilakukan dengan desain sistematis. Bahkan rahasia negara bisa dibobol oleh kecanggihan teknologi yang dikuasai oleh asing.

"Saya meminta mahasiswa dan pemuda bangkit dan bergerak," ujarnya.

Ketujuh, kelompok Islam dan tokoh beragama semakin terancam baik secara keamanan maupun kebebasan dalam menegakkan nilai nilai agama secara kaffah sebagaimana dilindungi oleh Pancasila.

Kedelapan, kelembagaan politik juga semakin melemah dan menunjukkan neo patriarki partai yang menguasai perpolitikan Indonesia. Kondisi ini diperparah dengan neo dinasti politik era modern dan penguasaan media oleh beberapa kelompok.

Terakhir adalah  korupsi di Indonesia semakin kuat dan penegakan hukum semakin lemah. Sementara permasalahan di daerah banyak yang tidak kunjung selesai. 

Lemahnya komitmen pusat dalam menjaga perdamaian dan perhatian terhadap daerah khususnya di daerah pasca konflik. Sehingga munculnya kekecewaan baru oleh masyarakat di daerah terhadap pemerintah pusat.

Sembilan indikator ini menurut Fachrul dalah tantangan Indonesia menuju 2045. Tahun 2030, ia prediksi puncak kehancuran yang akan terus berlanjut sampai 2045. 

"Percayalah, sebenarnya Indonesia tidak akan hancur sampai kapanpun kecuali dihancurkan oleh elit-elit politik itu sendiri. Wahai elit dan pemimpin hari ini, bersatulah atau Indonesia akan menuju the failed state (negara gagal) karena ulah kalian," tutupnya.[wid]


Sumber : rmol.co