Bersyukur Kunci Kebahagiaan Dalam Hidup


[ ZahirMedia ].  Nikmat yang diberikan oleh Allah SWT untuk semua makhluk memang tak ternilai dan bahkan tak terhitung banyaknya. Nikmat besar dan nikmat kecil senantiasa Allah berikan untuk semua makhluk-Nya di muka bumi ini. Bersyukur atas Nikmat yang diberikan Allah merupakan salah satu hal yang harus dilakukan sebagai salah satu cara berterima kasih pada Allah dan hal ini akan memberikan keberkahan dan menjadi amal dalam kehidupan hingga kelak menjadi penolong di akhirat.

Manusia yang pandai bersyukur tentu saja sangat dicintai oleh Allah SWT. Bersyukur bisa dilakukan dengan berbagai cara. Berterima kasih atas segala nikmat Allah akan membuat nikmat yang diraih terus bertambah. Bahkan dengan bersyukur akan menjadi salah satu rahmat penyelamat di akhirat.
Sebuah hadis diriwayatkan Hakim dari Jabir bin Abdullah RA menyebutkan, di akhirat nanti ada seorang hamba yang telah beribadah selama 500 tahun. Ahli ibadah tersebut pun dipersilakan Allah SWT untuk memasuki surga. "Wahai hamba-Ku, masuklah engkau ke dalam surga karena rahmat-Ku," bunyi Firman Allah dalam hadis qudsi tersebut.

Namun, ada yang menyangkal dalam hati si ahli ibadah. Mengapa ia masuk surga lantaran rahmat Allah? Bukankah ia telah beribadah selama 500 tahun? "Ya Rabbi, mengapa aku tidak dimasukkan kedalam surga karena amalku?" tanyanya.

Allah SWT pun memperlihatkan nikmat yang telah diberikan-Nya bagi si ahli ibadah. Nikmat Allah tersebut ditimbang dengan seluruh amal ibadah yang telah ia kerjakan. Ternyata, nikmat penglihatan dari sebelah matanya saja sudah melebihi ibadah 500 tahun si ahli ibadah. Akhirnya, si ahli ibadah pun tunduk dihadapan Allah dan menyadari betapa kecilnya nilai ibadahnya.

Tak ada alasan bagi seorang Muslim untuk tidak bersyukur kepada Allah. Sebanyak apa pun ibadah yang dilakukan, tak akan sebanding dengan nikmat dan karunia yang telah diterima dari Allah. Demikianlah hakikat dari ibadah, sebagai ungkapan rasa syukur seorang hamba kepada Rabb-nya. Jadi, menunaikan ibadah bukan hanya sebatas “pelunas utang” dan menunaikan kewajiban saja.

Rasulullah SAW sebagai seorang hamba yang dijamin tidak berdosa (maksum) adalah teladan dalam hal bersyukur. Suatu kali, istri beliau SAW bertanya, mengapa suaminya itu selalu shalat tahajud sepanjang malam. Bahkan, kaki beliau SAW pun sudah bengkak lantaran lamanya berdiri. "Ya Rasulullah, bukankah Allah SWT telah mengampuni dosamu yang terdahulu dan yang akan datang?" ujar Aisyah.

Aisyah mengisyaratkan, buat apalagi susah-susah ibadah, toh Rasulullah SAW sudah dijamin Allah masuk surga. Seluruh kesalahannya, kalaupun ada, sudah diampuni Allah. Dan, ia adalah makhluk yang paling mulia dimuka bumi. Lalu, mengapa ia masih merepotkan diri dengan ibadah sepanjang malam?

"Bukankah lebih elok jika aku menjadi hamba yang bersyukur," jawab Rasulullah (HR Bukhari).
Demikianlah Rasulullah mencontohkan, hakikat dari ibadah bukanlah sebatas “pelunas utang” atau pembersih diri dari dosa. Ibadah adalah luapan rasa syukur kepada Allah.
Bersyukur bisa dilakukan dengan berbagai cara termasuk beribadah dengan baik kepada Allah SWT. Ibadah merupakan bentuk syukur terbaik yang bisa dilakukan oleh setiap manusia. Semakin baik beribadah kepada Allah maka hal ini merupakan bentuk rasa syukur terbaik.