Jumlah Pelajar SD yang Merokok Terus Meningkat

          Ilustrasi rokok.

Salah satu fakto meningkatnya jumlah pelajar yang merokok karena harga rokok murah.

[ ZahirMedia ].  Jumlah pelajar sekolah dasar yang menjadi perokok aktif dilaporkan terus meningkat. Salah satu faktor pemicunya adalah murahnya harga jual rokok.

Karena alasan itulah Warrior FCTC kota Banda Aceh, Raudhatul Jannah memberikan pesan kepada para pelajar dan mahasiswa untuk menjauhi rokok. “Kami menyuarakan pesan supaya harga rokok dinaikkan setinggi-tingginya dan dilarang dijual batangan supaya tidak terjangkau anak,” tegas Raudhatul saat sosialisasi bahaya merokok di kalangan pelajar dan mahasiswa di Banda Aceh.
Seperti dalam siaran pers yang diterima Republika.co.id, Kamis (22/3), Raudhatul berkolaborasi dengan komunitas Youth Generation of Tobacco Control (YGTC) untuk fokus mengedukasi anak-anak yang duduk di SD. “Karena jumlah pelajar SD yang merokok terus meningkat,” kata dia.
Pegiat Asian Law Student Association (ALSA) itu berkata, usia mulai merokok di Aceh semakin muda. “Anak-anak usia 10-14 tahun sudah mencapai 10 persen. Sangat menyedihkan karena mereka masih pelajar SD,” ujarnya.
Hal itu yang kemudian membuat Raudha dan komunitas YGTC aktif mengampanyekan bahaya merokok kepada pelajar SD. Edukasi pertama dilakukan di lapangan sekolah SDN 12 dengan peserta pelajar kelas 5 dan 6.
Ia mengaku sedih mendengar sebagian dari pelajar SD tersebut telah merokok karena mudahnya mereka membeli rokok di warung dekat dengan sekolah dan mulai mencoba-coba. “Ada rokok yang dijual Rp 1.000 per batang, sedangkan harga snack atau minuman dingin di warung dekat sekolah Rp 3.000 hingga Rp 5.000. Ini yang membuat anak-anak tergiur untuk mencoba merokok dan akhirnya membeli rokok. Apalagi mereka mengakui pemilik warung tidak menolak menjual rokok kepada anak,” ujarnya.
Karena itu, ia meminta Pemerintah menaikkan harga rokok agar tak dapat dijangkau oleh anak-anak. Ia mengaku sangat khawatir dengan banyaknya pelajar yang kecanduan karena sifat rokok yang adiktif. Apalagi kecanduan rokok berdampak pada timbulnya penyakit di saat usia produktif.
“Kami ingin menyampaikan kegelisahan sebagai anak muda Aceh terhadap kondisi adik-adik kami pelajar SD yang sudah merokok,” ucap dia.

Sumber : republika.co