Rudal Saudi Ledakkan Rudal Houthi yang Targetkan Riyadh


[ ZahirMedia ].  Kelompok militan Houthi di Yaman kembali meluncurkan rudal balistik yang mampu menjangkau lebih dari 800km dengan sasaran ibukota Arab Saudi, Riyadh. Untungnya rudal itu berhasil dirontokkan rudal Patriot milik Arab Saudi.
Al Jazeera pada Minggu 5 November mengutip Juru Bicara kelompok militant Houthi yang mengatakan bahwa mereka melepaskan rudal Burkan 2-H-- varian rudal Scud, menuju Kota Riyadh. Rudal diarahkan ke King Khalid International Airport yang berada di kota itu. Serangan ini merupakan yang pertama kalinya rudal Houthi menyasar ibu kota Arab Saudi dalam perang yang telah berlangsung empat tahun tersebut. Jelas, itu menunjukkan posisi Arab Saudi sangat tidak aman.
“Ibu kota negara yang terus menembaki kami, menargetkan rakyat sipil tidak bersalah, tidak akan lolos dari rudal kami,” kata juru bicara Houthi tersebut.
Al Masirah, jaringan televisi yang dikelola kelompok militant outhi, melalui jaringan media sosial mereka juga mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Rekaman video yang disiarkan melalui sosial media memperlihatkan asap yang membubung dari komplek Bandara Internasional Raja Khalid di Riyadh.
Sementara itu kantor berita resmi Saudi Arabia SPA mengutip Kolonel Turki al-Maliki mengatakan, tepat pukul 20:07  waktu setempat, sebuah rudal balistik ditembakkan dari arah Yaman menuju Kerajaan Saudi Arabia.
Menurut Maliki, pasukan Saudi Arabia menggunakan rudal Patriot dari udara ke udara untuk menangkis dan menghancurkan rudal tersebut yang serpihannya kemudian jatuh berserakan di kawasan tanpa penduduk di timur bandara. Rudal tersebut berhasil dicegat di timur laut Riyadh.
Dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera beberapa waktu lalu, Mohammed Abdul Salam, juru bicara kelompok Houthi, mengancam akan meningkatkan operasi di perbatasan Yaman-Saudi Arabia dan menargetkan serangan jauh ke wilayah Saudi Arabia.
“Pihak Saudi yang memulai perang. Respons kami akan terus dan meningkat dengan target jauh ke wilayah Saudi Arabia, kawasan militer dimana pesawat jet mereka terbang, atau pos militer di dalam teritori Yaman,” kata Abdul Salam.
“Abu Dhabi dan target kami yang lain, sejauh ini adalah target militer. Negara mana pun yang menargetkan Yaman akan dibalas oleh tembakan rudal kami,” katanya.
Perang saudara di Yaman--negara paling miskin di kawasan Arab, pecah sejak 2014 setelah militant Houthi menguasai Ibukota Sanaa dan terus maju dengan target Aden, kota terbesar ketiga di negara itu.
Kuatir dengan meningkatnya serangan Houthi, yang diyakini mendapat dukungan dari Iran, Saudi Arabia yang berkoalisi dengan negara Arab lain yang beraliran Sunni melakukan intervensi pada 2015 dalam bentuk serangan udara. Tujuannya mengembalikan Abd-Rabbu Mansour Hadi ke kursi presiden.
Sejak itu, lebih dari 10 ribu  warga Yaman menjadi korban dan setidaknya 40.000 terluka, sebagian besar akibat serangan udara Saudi Arabia. [  ]
Sumber : gardanasional.id