Hakikat Dalam Beribadah

Ilustrasi/Net

[ ZahirMedia ]. Beribadah dan bersyukur kepada Allah SWT merupakan salah satu hal yang sangat penting sekali untuk dilakukan oleh setiap orang. Beribadah kepada Allah adalah bentuk syukur atas nikat yang telah diberikan. Allah menyukai hamba-Nya yang pandai dalam mensyukuri nikmat dan Allah menyukai hamba-Nya yang giat beribadah.

Sungguh, sangat banyak hal-hal yang harus disyukuri seorang hamba. Nikmat tersebut baru akan terasa nilainya ketika Allah SWT telah mencabutnya. Jadi, sebelum Allah mencabut nikmat itu, syukurilah keberadaannya.

Bersyukur atas nikmat Allah yang sangat melimpah harus senantiasa dilakukan supaya apa yang diberikan oleh Allah akan kembali ditambah dengan nikmat yang semakin berlimpah. Jangan menjadi kufur atas nikmat-Nya sebab hal ini akan menjadi malapetaka. Nikmat Allah sangat banyak dan tidak bisa dihitung dalam hitungan matematis sekalipun.

"Dan, jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menghitungnya (karena banyaknya). Sesungguhnya, Allah benar-benar Maha Penyayang." (QS an-Nahl [16] : 18).

Ketika seorang hamba sudah mengetahui hakikat ibadahnya sebagai bentuk syukur, saat itulah ibadah bisa menjadi perisainya. Seorang yang menunaikan kewajibannya dan juga menambahnya dengan ibadah-ibadah sunah akan bermuara pada kecintaan Allah. Ketika ia sudah mendapatkan cinta Allah, seluruh aktivitas yang ia jalani di muka bumi adalah restu dan rida dari Allah SWT.

Sebagaimana Firman Allah dalam hadis qudsi: "Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku senangi daripada melaksanakan apa yang Aku fardukan atasnya. Dan, tidak pula hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri dengan melakukan amalan-amalan sunah, sehingga Aku mencitainya. Dan, bila Aku mencintainya, menjadilah Aku telinganya yang ia gunakan untuk mendengar, matanya yang ia gunakan untuk melihat, tangannya yang dengannya ia memegang, dan kakinya yang dengannya ia berjalan. Apabila ia bermohon kepada-Ku maka pasti Ku kabulkan permohonannya, apabila ia meminta perlindungan-Ku maka pasti ia Ku lindungi. (HR Bukari Muslim).

Mereka yang mendapatkan cinta Allah tersebut juga diistilahkan dengan wali Allah. Tak mudah untuk mengetahui siapa wali Allah tersebut. Tetapi, yang jelas wali Allah adalah ahli ibadah yang menunaikan ibadah sebagai bentuk rasa syukur mereka.

Berhati-hatilah berurusan dengan para wali Allah. Seperti dinyatakan dalam kelanjutan hadis di atas, “Siapa yang memusuhi wali-Ku (orang yang dicintai Allah) maka sesungguhnya Aku telah menyatakan perang dengannya."

Beribadah kepada Allah dan mensyukuri nikmat-Nya adalah aspek penting yang harus senantiasa diperhatikan oleh setiap manusia. Jangan membuat Allah murka akibat tidak bisa mensyukuri nikmat-Nya. Pandai-pandailah untuk bersyukur atas nikmat Allah dan beribadahlah supaya Allah semakih sayang dan memberikan keberkahan dan keberlimpahan dalam hidup yang Anda jalani. Hakikat hidup adalah untuk bersyukur dan beribadah.