Membiasakan Gaya Hidup Orang Bertakwa

Ilustrasi/Net


[ ZahirMedia ].  Beriman dan menjalankan segala perintah Allah serta menjauhi larangan-Nya adalah konsep taqwa. Setiap muslim hendaknya menjalankan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala bentuk perbuatan yang dilarang.

Menerapkan konsep takwa dalam kehidupan sehari-hari memang sangat penting sekali supaya bisa mengontrol pola perilaku. Manusia yang bertakwa tentu akan memiliki batasan atas setiap perilaku dan tindakannya.

Tidak akan banyak kebiasaan tercela yang dilakukan jika hati sudah dipenuhi dengan keimanan dan ketakwaan terhadap Allah SWT. Tentu kehidupan akan penuh dengan berkah dan jauh dari perbuatan dosa yang bisa memcelakakan kelak di akhirat.

Suatu hari, Rasulullah SAW pernah bersabda kepada salah seorang sahabatnya yang bernama Abu Dzar. “Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada, ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya akan jadi penggantinya, dan berinteraksilah dengan sesama manusia dengan akhlak yang baik.” (HR Tirmidzi).

Dalam pesan Nabi ini, ada tiga hal yang bisa menjadikan seorang Mukmin menjadi Mukmin yang hakiki. Pertama, bertakwa kepada Allah di mana pun kita berada.

Orang Mukmin yang benar-benar beriman akan selalu merasakan kehadiran Allah dekat dengannya. Tidak pernah ia merasa luput dari pantauan Allah, tidak pernah ia merasa lupa semua yang ia lakukan selalu diperhatikan dan dinilai Allah.

Baik dalam keadaan sepi sendirian maupun dalam keadaan ramai bersama teman-temannya. Baik di rumah, jalan raya, tempat kerja, maupun tempat-tempat lain yang menjadi tempat aktivitasnya. Di rumah, misalnya, ia akan melakukan tanggung jawabnya dengan baik sebagai salah satu anggota keluarga.

Kehidupan akan terasa sangat tenang dan damai saat Anda memiliki keimanan dan ketakwaan dalam hati. Tidak aka nada rasa takut akan apapun kecuali Allah SWT. Ketakwaan akan membuat hati senantiasa tentram sehingga membuat hidup penuh dengan berkah.

Jika menjadi kepala rumah tangga, ia akan menjadi kepala rumah tangga yang baik, suami yang baik bagi istrinya, dan menjadi ayah yang baik bagi anak-anaknya.

Dia merasa Allah memperhatikan semua yang ia lakukan terhadap anggota keluarganya. Jika menjadi ibu rumah tangga, ia akan menjadi istri yang baik bagi suaminya dan menjadi ibu yang baik terhadap anak-anaknya.

Dia merasakan kehadiran Allah yang memantau semua aktivitasnya. Begitu pula, ketika sedang berada di tempat kerja, ia akan bekerja dengan baik dan tidak akan melakukan sesuatu yang merugikan orang lain karena merasa Allah selalu bersamanya.

Kedua, mengiringi keburukan dengan kebaikan. Artinya, setiap kali melakukan kejahatan atau maksiat, baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia, maka harus mengikutinya dengan perbuatan baik, agar dosa dari kejahatan atau maksiat tersebut bisa terhapus.

Sebagai manusia biasa, kita tidak akan pernah luput dari salah dan dosa. Hal ini sesuai dengan hadis lain yang menegaskan, setiap manusia pasti pernah bersalah dan berdosa, dan sebaik-baik orang yang bersalah atau berdosa adalah mereka yang bertobat. (HR Tirmidzi dan Abu Dawud).

Mengiringi perbuatan buruk dengan perbuatan baik, bisa berarti beristighfar kepada Allah SWT dan memberi sedekah untuk melebur dosa-dosa kecil yang pernah kita lakukan, jika dosa yang kita lakukan itu terkait dengan hak-hak Allah.

Sedangkan untuk menghapus dosa yang terkait dengan hak-hak makhluk maka sebelum meminta ampun kepada Allah terlebih dahulu kita harus meminta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti.
Ketiga, berinteraksi dengan sesama manusia dengan akhlak yang baik. Maksudnya, kita memperlakukan orang-orang yang ada di sekitar kita dengan cara yang baik.

Anak kita, istri kita, sanak saudara, famili, tetangga, teman kita, saudara seagama, saudara sesama manusia, saudara sesama makhluk Allah yang lain juga harus kita perlakukan dengan cara yang baik.
Maka dari itu kita sebagai umat muslim, marilah tingkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT supaya kehidupan yang kita jalani penuh dengan keberkahan dan senantiasa di ridhai Allah SWT.