Sehat Jiwa Raga Dengan Beribadah

Ilustrasi/Net
[ ZahirMedia ].  Memiliki jiwa raga yang sehat tentu saja dambaan setiap orang. Banyak yang bisa dilakukan saat memiliki jiwa raga yang sehat. Bahkan segala aktivitas dalam keseharian baik itu yang bersifat duniawi atau akhirat tentu saja membutuhkan kondisi jiwa dan raga yang sehat.


Kesehatan bagi kebanyakan orang dipahami sebatas persoalan raga belaka. Pantas jika kemudian praktik dokter menjadi begitu marak, sebab tak satu pun manusia yang kesulitan mengenali perihal penyakit raga. Padahal, masalah kesehatan tidak semata raga, tetapi juga jiwa. Sayangnya, tidak banyak orang memahami perihal yang sejatinya paling esensial dalam diri setiap insan ini. Akibatnya, banyak orang yang kian hari kian rusak hidupnya karena yang sakit jiwa dan pikirannya, tetapi yang diobati raganya. Dokter ditaati, ulama diabaikan, akhirnya akal dituhankan.

Logika adalah salah satu hal yang sering di pakai manusia untuk menyikapi sebuah permasalahan. Namun tentunya jangan hanya mengandalkan logika semata sebab dalam hal ini kesehatan jiwa dan raga tentu menjadi dua hal yang berbeda dari segi penyebab atau pemicunya.

Orang tidak bisa tidur, misalnya, jika dianalisis secara menyeluruh bukan hanya karena ketegangan syaraf, melainkan gersangnya jiwa dari menjalankan ibadah sehingga sangat jarang mengingat Allah Ta'ala. Buya Hamka dalam bukunya, Kesepaduan Iman dan Amal Sholeh, menyampaikan ungkapan seorang dokter yang memberikan nasihat kepada pasien yang menderita darah tinggi. "Mengapa seseorang menjadi darah tinggi, atau kacau pikiran sehingga tergoyang urat saraf? Sebabnya ialah karena soal-soal yang beraneka warna dalam hidup ini hendak diselesaikan sendiri, hendak dibereskan sendiri."

Memang sudah tidak aneh lagi apabila saat ini banyak yang hanya memperhatikan kesehatan raga saja tanpa memperhatikan apa itu kebutuhan jiwa atau bathin. Hal ini sering memicu polemic terkait kesehatan seseorang. Handaknya jangan memandang dari satu sudut pandang saja.

"Lupa bahwa keputusan yang sebenarnya adalah di tangan Allah sementara hati kurang terpaut kepada- Nya, hanya percaya kepada kekuatan sendiri. Orang lupa bahwa kekuatan diri sendiri terbatas." "Oleh sebab itu, kata teman saya itu pula, hendaklah segala urusan itu lepaskan ke atas, jangan hendak dipikul sendiri dan hendak diedarkan di keliling otak; tentu payah. Dengan mengerjakan shalat dan khusyuk, kita melepaskan senak yang tertumbuk dalam pikiran kita."

Dengan kata lain, semakin seseorang disiplin menjalankan ibadah, seperti shalat, membaca Alquran, zikir, sedekah, serta yang lainnya, semakin besar kemungkinan seseorang hidup sehat jiwa dan raganya. Tentu saja semua dilakukan dengan memperhatikan kualitas berupa niat yang lurus, kekhusyukan, dengan meresapi makna hingga sampailah makna dari setiap doa dan zikir yang diucapkan ke dalam jiwa sehingga tenteramlah hati. Hal ini bisa kita lihat dari Rasulullah SAW yang senantiasa sungguh-sungguh dalam beribadah. Sekalipun ada amalan kecil yang dilakukan, beliau tetap melakukannya dengan kualitas terbaik.

Ibadah dalam keseharian merupakan bagian penting untuk menjaga kesehatan jiwa dan raga. Jangan terlalu mengedepankan logika untuk kesehatan Anda. Penting disadari bahwa keseimbangan jiwa dan raga itu penting yang salah satunya melalui pelaksaan kewajiban sebagai umat beragam dengan melaksanakan ibadah.

Rasulullah shalat malam hingga tapak kaki beliau bengkak bukan karena banyaknya rakaat tahajud yang didirikan, melainkan pengerjaan setiap rukun shalat itu sendiri, di mana antara berdiri, ruku, dan sujud semua dilakukan dengan sangat khusyuk. Buya Hamka menegaskan, "Segala ibadah yang telah diperintahkan itu sangatlah teguh hubungannya dengan penjagaan jiwa kita di dalam menghadapi hidup."

Menjaga kesehatan jiwa dan raga harus diseimbangkan dengan kegiatan yang positif. Misalnya dengan berolahraga untuk kesehatan raga dan seimbangkan pula dengan melakukan kewajiban terhadap Tuhan Yang Maha Esa yaitu beribadah. Keseimbangan ini yang akan membuat jiwa dan raga senantiasa sehat.